Cerita

Kegiatan KPI Bekali Istri Jalin Komunikasi Positif dengan Suami

29 April 2016
Penulis: admin

Saya, Asnimar, seorang ibu rumah tangga berumur 46 tahun. Dulu saya adalah seorang istri yang sangat takut pada suami. Tapi sekarang saya tidak takut lagi, semua berkat diskusi bersama di kelompok Koalisi Perempuan Indonesia.

Ketakutan saya muncul karena Ia sangat memegang kendali dalam segala urusan dalam rumah tangga kami. Saya merasa hak – hak saya terbelenggu. Ketakutan ini bertambah ketika suami saya bekerja sebagai sopir truk ini, kerap berjudi dan mabuk – mabukan. Suami saya selain melarang saya untuk keluar rumah, Ia pun kerap naik pitam dan mengeluarkan kata – kata kasar.

Di sela waktu luang saya yang sedikit, secara diam – diam kawan – kawan yang peduli pada kondisi saya membawa saya diperkenalkan dengan Koalisi Perempuan Indonesia (KPI). Di situ saya paham tujuan dari perjuangan KPI.

Lewat pertemuan-pertemuan KPI, saya dan kawan – kawan bisa bertukar pikiran dan saling memberikan solusi untuk permasalahan yang kami hadapi. Kami bahkan berdiskusi bersama pemuka agama yang membahas bagaimana cara mendidik anak dan menjalin komunikasi yang baik dengan suami pun digelar.

Dengan bekal pengetahuan tersebut, saya memberanikan diri untuk berkomunikasi dan memberi masukan pada suami saya. Saya menyatakan kesedihan dan kekecewaan saya ketika suami melemparkan kemarahannya pada saya tanpa alasan yang jelas. Saya juga memberikan penjelasan mengenai Undang – Undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang diatur pada UU No. 23 Tahun 2004 yang menyatakan lingkup dan kategori KDRT.

Setelah melakukan komunikasi secara berkala, suami saya mulai tersadar akan pentingnya menjaga perasaan dan memberikan hak seorang istri. Ia juga mulai berpikir secara rasional dalam mengambil sebuah keputusan untuk keluarga kami. Kini, saya tidak dihalangi untuk pergi keluar rumah. Bahkan, saya diberikan sebuah telepon genggam untuk alat berkomunikasi.

Semenjak saat itu, saya aktif mengikuti pelatihan keterampilan praktis yang diberikan oleh KPI. Salah satunya adalah pelatihan membuat Sala Lauk, makanan khas Sumatera Barat. Dari keterampilan ini, saya dan beberapa anggota KPI berhasil menjual Sala Lauk di warung sekitar rumah kami. Kami pun mengembangbiakan jamur merang di desa kami. Keuntungan yang kami peroleh cukup membantu kondisi perekonomian keluarga.

Selain membantu kami untuk mendapatkan uang tambahan, KPI juga membawa perubahan positif dalam diri saya. Saya menjadi lebih berani untuk berpartisipasi sebagai kader KPI. Ketika kelurahan daerah saya tinggal memerlukan pendataan orang tua lanjut usia dan keluarga miskin untuk program MAMPU, saya memberanikan diri untuk bertemu pihak terkait di kantor kelurahan. Saya tidak menyangka bahwa saya mendapatkan pemasukan tambahan sebesar Rp 100.000,00 per kepala keluarga selama 3 bulan sebagai pencatat data penduduk untuk program MAMPU.

Saya juga aktif diberbagai kegiatan pengajian. Suami saya sangat bangga ketika saya berhasil  menghidupkan Majelis Ta’lim, sebuah perkumpulan pengajian yang selama ini vakum. KPI dan MAMPU banyak berperan dalam perubahan ini.

Sekarang, saya merasakan kebahagian di keluarga kami. Suami saya bisa lebih menjaga kata – katanya dan berkomitmen untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Ia pun memberikan kasih sayang yang jauh lebih besar daripada sebelumnya. Selain itu pun saya dapat berkontribusi lebih banyak untuk berbagai komunitas di daerah saya tinggal.

 

*Penyempurnaan dari cerita Most Significant Changes yang ditulis oleh Nela Nofrita dari Kota Padang, Sumatera Barat