Foto

Pupusnya Harapan

10 November 2016
Penulis: admin

“Gambaran buruh migran yang mendapat musibah di negeri jiran Malaysia. Dia mengalami patah kaki dan cacat, lalu akhirnya dipulangkan ke Indonesia. Saat ini kondisinya tidak bisa bekerja. Sehingga, dia belum tahu kapan harapan untuk memiliki rumah sendiri bisa terwujud.”

Fotografer:

Erlina Mardiana, 31 tahun. Karena keadaan ekonomi, pada tahun 2006 ia mendaftar menjadi buruh migran ke Saudi Arabia. Selama di Riyadh, Diana bekerja nyaris tanpa istirahat, dan tetap bertahan demi keluarga. Pulang ke Lombok, ia membuka warung dan saat ini aktif di kelompok BMP Cerah Ceria, kelurahan Gerunung, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah, NTB.

PhotoVoice: Suara Perempuan dalam Foto

Foto ini adalah satu dari 48 foto hasil jepretan 21 ibu-ibu mantan buruh migran, anggota keluarga buruh migran dan pemerhati buruh migran yang tinggal di enam desa di NTB dan NTT.  Cerita foto dan profil fotografer dapat dibaca dalam foto yang ditampilkan.

Melalui foto, mereka menyuarakan keprihatinan, kebutuhan dan menceritakan keberhasilan sebagai buruh migran.  Mereka juga menggunakan foto-foto ini untuk merekam perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan mereka, kehidupan masyarakat di sekitar mereka serta menyampaikan tantangan-tantangan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Foto-foto mereka pernah dipamerkan dalam dua acara nasional yaitu Konferensi Nasional Perempuan Inspirasi Perubahan (Mei 2015, di Jakarta) dan Jambore Buruh Migran (November 2015, di Jember).  Cerita tentang mereka ditulis oleh wartawan Kompas, Meidiana, dan dipublikasikan dalam Kompas Minggu (edisi cetak), tanggal 13 Desember 2015.

MAMPU bekerjasama dengan Migrant CARE, dan mitra lokal PPK (Perkumpulan Panca Karsa) di Lombok dan Yayasan Kesehatan untuk Semua (YKS) di Lembata, melakukan pelatihan kepada ibu-ibu ini pada bulan Maret 2015 dan dilanjutkan bulan Desember 2015.  Pelatihan diberikan oleh PhotoVoice, konsultan dari London, Inggris.