Publikasi

Seri Pembelajaran MAMPU – Pemberdayaan Ekonomi Perempuan

Di sepanjang perjalanan MAMPU, kami mengeksplorasi sejumlah pertanyaan yang nampaknya sederhana namun sebenarnya mendalam, terkait pemberdayaan ekonomi perempuan, yang meliputi:

‘Di mana posisi pemberdayaan ekonomi perempuan di dalam pemberdayaan perempuan secara umum?’

‘Apakah terciptanya pendapatan merupakan bagian terpenting dari pemberdayaan ekonomi?’

‘Apakah terciptanya pendapatan memang diperlukan?’

‘Bagaimana suatu organisasi yang tidak memiliki latar belakang bisnis dapat sukses menjalankan proyek pemberdayaan ekonomi perempuan?’

Meskipun kami tidak mengetahui seluruh jawabannya, selama delapan tahun terakhir, para Mitra MAMPU terus bergulat dengan isu-isu ini untuk membangun kemahiran mereka dalam menanganinya. Kami ingin berbagi tentang beberapa hal yang telah dipelajari oleh para mitra kami kepada audiens yang lebih luas, agar dapat berkontribusi kepada upaya nasional dan global untuk memberdayakan perempuan. Makalah kami yang berjudul Pendekatan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan (Approaches to Women’s Economic Empowerment) menjelaskan apa yang telah kami pelajari, dan apa yang dapat kami rekomendasikan dari pembelajaran ini kepada organisasi dan program lain yang memiliki agenda pemberdayaan ekonomi.  Dokumen lengkapnya dapat diunduh di bawah ini, namun secara umum terdapat tiga pembelajaran utama:

(1) Konsep yang abstrak dan kompleks seperti pemberdayaan ekonomi perempuan harus didefinisikan secara jelas, karena dapat ditafsirkan berbeda-beda oleh orang yang berbeda… dan jika ini terjadi, akan banyak waktu yang terbuang.  Terkait pemberdayaan ekonomi perempuan, Anda harus memperjelas sejak awal tentang siapa orang yang akan Anda bantu, dan memastikan bahwa mereka adalah aktor ekonomi, dan bukan aktor sosial. Misalnya, ‘pekerja rumahan’, dan bukan ‘perempuan miskin dan rentan’. 

Pertanyaan berikutnya adalah tentang apa makna pemberdayaan ekonomi bagi organisasi atau program Anda… Pemberdayaan ekonomi mencakup berbagai isu, dan merupakan proses sekaligus hasil (outcome), sehingga menentukan fokus yang tepat memang cukup sulit.  Makalah kami menjelaskan kerangka yang telah dikembangkan oleh MAMPU, yang menggabungkan berbagai pendekatan yang ada, serta membangun konsep pemberdayaan ekonomi melalui lima ‘aset’, yaitu aset manusia, kelembagaan (agensi), sosial, keuangan dan sumber daya, serta pendukung (enabling).

Kerangka ini menciptakan bahasa bersama bagi keseluruhan program, dan dapat digunakan untuk berbagai tujuan, antara lain: sebagai alat asesmen untuk membantu mengidentifikasi dan memprioritaskan masalah; sebagai alat desain untuk memilih area intervensi dan mencari cara untuk mengkombinasikannya agar dapat mencapai hasil proyek yang diharapkan; dan sebagai alat evaluasi dan pembelajaran untuk memastikan bahwa suatu proyek berjalan sebagaimana mestinya, atau apakah ada aktivitas yang perlu diadaptasi.

(2) Pemerintah bukan satu-satunya fokus advokasi, pendanaan, dan intervensi layanan. Sektor swasta juga perlu dilibatkan dan bertanggung jawab… Berdasarkan pengalaman dan latar belakangnya, keempat Mitra MAMPU memandang pemerintah sebagai lembaga utama yang wajib dilibatkan di dalam intervensi mereka. Namun, seiring waktu para mitra juga menyadari bahwa sebenarnya terdapat banyak peluang untuk melibatkan sektor swasta. Mereka membuat hal-hal yang dapat melibatkan baik pemerintah dan sektor swasta sekaligus di dalam intervensi pemberdayaan ekonomi perempuan, seperti:

Target untuk kerja advokasi: yaitu dengan mengubah peraturan di tingkat organisasi, pemerintah daerah maupun pusat

Sebagai mitra untuk menjalankan atau mendanai suatu kegiatan: misalnya untuk mendampingi perempuan di suatu rantai nilai, organisasi maupun daerah tertentu

Sebagai penyedia layanan: yaitu memberikan pelatihan, layanan simpan pinjam, perlindungan sosial, maupun bantuan lainnya.

(3) Tidaklah cukup bagi perempuan jika hanya dilibatkan untuk memberikan masukan kepada berbagai proyek pemberdayaan ekonomi, perempuan juga harus memainkan peranan penting dalam perancangan dan pemilihan kegiatan… Partisipasi adalah kunci di dalam setiap kegiatan pembangunan, khususnya kegiatan yang diklaim dapat memberdayakan. Namun, pada makalah ini kami merekomendasikan agar melibatkan perempuan sejak tahap desain/perancangan agar dapat mengidentifikasi dan memilih intervensi apa yang membuat para perempuan tersebut bersedia untuk berpartisipasi. Ini berarti sejak awal proyek, perlu mempertimbangkan seluruh kebutuhan, preferensi, dan keterampilan perempuan, serta menghindari jebakan umum intervensi penciptaan pendapatan, yaitu asumsi bahwa semua perempuan memiliki kapasitas dan keinginan untuk menjadi wirausahawan.


  • Diterbitkan oleh:

    MAMPU

  • Tanggal publikasi:

    Desember 2020