Kegiatan

 

Balai Sakinah ‘Aisyiyah Dorong Pemerintah Desa Kerja Sama Tanggap Pandemi

23 Juni 2020
Penulis: Amron Hamdi

Pipit Marliani (42), tinggal di Desa Licin, Sumedang, Jawa Barat. Sehari-harinya, Pipit berprofesi sebagai Kepala Sekolah sekaligus pengajar di Kelompok Bermain Peduli Anak Bangsa di desa tempat tinggalnya.

Pipit dan para anggota Balai Sakinah ‘Aisyiyah—kelompok dampingan ‘Aisyiyah, Mitra Program MAMPU, merasakan dampak pandemi yang mengubah kebiasan hidup sehari-hari masyarakat hingga dampak terhadap perekonomian desa.

Untuk itu, Pipit dan anggota BSA lainnya mendorong Kepala Desa untuk membentuk tim satgas COVID-19 di Desa Licin dan melakukan pendataan secara menyeluruh untuk penyaluran bantuan sosial.

“Awalnya karena ada kekhawatiran banyaknya warga berstatus ODP yang berdatangan dari luar kota yang kembali ke desa setelah merantau, bekerja, atau kuliah, saya mengusulkan dibentuknya satuan tugas (satgas) COVID-19 ke Kepala Desa”, terang Pipit.

Selain satgas, Kelompok BSA Desa Licin juga mendorong pembentukan Posko pendataan COVID-19 agar pendataan dan penanggulangan lebih terorganisir dengan baik.

Berbagai upaya seperti edukasi pencegahan COVID-19 dan mengorganisir kelompok perempuan setempat untuk membuat masker kain menggunakan bahan yang tersedia.

Surima, kader BSA di Desa Kartiasa, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat melakukan upaya serupa dengan Pipit. Ia menyampaikan bahwa produksi masker kain secara kolektif oleh para anggota BSA menghasilkan 600 masker.


“Kami buat dan kami distribusikan terutama kepada kawan-kawan penyandang disabilitas, lansia, dan masyarakat yang kurang mampu,” jelas Surima.

Kelangkaan masker di Desa Kartiasa menjadi motivasi Surima dan kawan-kawan menginisiasi pembuatan dan pembagian masker ini hingga diapresiasi dan diadopsi oleh Pemerintah Desa Kartiasa.

“Kepala Desa merencanakan satu keluarga akan mendapatkan 6 helai masker. Setelah dihitung untuk seluruh masyarakat Desa Kartiasa membutuhkan kurang lebih sembilan ribu helai masker”, Surima menambahkan.

Gerakan 9.000 masker oleh pemerintah desa akan terus dikawal dan didampingi oleh kelompok BSA setempat. Selain menjalankan upaya pencegahan, gerakan ini juga berpotensi memberikan pemasukan bagi perempuan yang sebagian besar kehilangan pendapatan karena terdampak pandemi COVID-19.

“Alhamdulillah, menjahit masker menjadi penghasilan bagi 20 perempuan yang terlibat selama di rumah saja karena pemerintah desa membayar seribu rupiah per helai masker,” lanjut Surima.

Tidak hanya membagikan, kelompok BSA juga giat membagikan informasi dan tips menggunakan dan membersihkan masker kain.

“Kami bagikan dan edukasi bahwa masker kain ini hanya boleh digunakan selama 4 jam, setelah itu harus dicuci dengan sabun, dijemur, dan disetrika sebelum dapat digunakan kembali.”

Pembagian masker juga dilakukan dengan mematuhi anjuran pembatasan jarak sosial, dan mengutamakan keselamatan petugas dan masyarakat setempat.

Pipit dan Surima menunjukkan pentingnya mendengarkan suara dan melibatkan peran mereka dalam proses perencanaan hingga implementasi tanggap darurat. Perlindungan perempuan sebagai aktor penting dalam upaya kesehatan masyarakat juga menjadi langkah mendasar yang tidak dapat diabaikan oleh seluruh pihak yang terlibat, khususnya di saat perempuan menjalankan sebagian besar peran-peran strategis yang menyangga pilar kesehatan masyarakat selama pandemi berlangsung.