Kegiatan

 

Ketahanan Pangan Selama Pandemi: Cerita Perempuan Sumatra

23 Juni 2020
Penulis: Amron Hamdi

Komunitas bertukar bahan pangan

Pada akhir Maret 2020 lalu, Gubernur Provinsi Bengkulu secara resmi menyatakan bahwa wilayahnya merupakan zona merah penyebaran COVID-19.

Situasi ini berdampak luas terhadap masyarakat di berbagai kalangan. Salah satunya adalah kelompok perempuan petani sayur di Kabupaten Rejang Lebong, tepatnya di Desa Sumber Urip, yang mengalami penurunan pendapatan secara signifikan. Sebelum pandemi melanda, komunitas perempuan petani sawit dan sayur mayur dapat menghasilkan hingga Rp200.000 per hari. Setelah pemerintah setempat memberlakukan pembatasan sosial, penghasilan rata-rata mereka hanya berkisar antara Rp60.000 – Rp80.000 per hari. Tak jarang pula warga kehilangan penghasilan utama dari berladang. Hal tersebut dipengaruhi oleh anjloknya harga sawit dan sayur mayur dengan adanya pembatasan aktivitas pasar dan persaingan antar petani.

Suhartini (47) yang berasal dari desa ini, yang merupakan Ketua Credit Union (CU) Harapan Perempuan setempat, didampingi WCC Cahaya Perempuan – PERMAMPU, mitra MAMPU di Bengkulu, menginisiasi pendataan mandiri dampak pandemi terhadap kesehatan dan ekonomi warga di sekitarnya.

“Hasil pendataan dari masing-masing kepala keluarga dilaporkan ke Bidan Desa dan Puskesmas agar segera ditindaklanjuti, karena Karena sudah terdapat beberapa ODP dalam sejumlah rumah tangga,” Suhartini memberikan informasi. Hingga pekan pertama April 2020, terdapat 10 warga Desa Sumber Urip yang terdata sebagai Orang Dalam Pemantauan (ODP).

Cahaya Perempuan mengembangkan berbagai materi edukasi tentang pencegahan penularan COVID-19 yang kemudian disebarkan melalui pesan singkat dan aplikasi pesan, seperti WhatsApp.

“CU bekerja sama dengan Puskesmas, Babinkamtibnas, Karang Taruna dan kelompok PKK mengajarkan warga membuat cairan disinfektan agar mereka dapat membersihkan rumahnya masing-masing,” tukas Suhartini.
Kelompok perempuan petani di Desa Sumber Urip merupakan salah satu kelompok yang mengalami dampak ekonomi cukup berat dilihat dari beban ganda yang mereka pikul. Berangkat dari situasi ini, Kelompok CU Harapan Perempuan menginisiasi sebuah gerakan untuk ketahanan pangan warga secara mandiri, khususnya bagi anggota kelompok CU yang terdampak pandemi.

Inisiatif tersebut diberi nama “Perempuan Berbagi Hasil Panen untuk Ketahanan Pangan Keluarga”. Gerakan ini mengumpulkan hasil panen sayur-mayur yang dihasilkan anggota kelompok CU untuk saling ditukarkan dengan jenis sayur atau bahan pangan lain, seperti ikan yang dibudidayakan oleh sesama warga desa.

Suhartini berharap inisiatif ini dapat terus berjalan selama masa pandemi. “Setidaknya memenuhi kebutuhan kita sampai situasi membaik dan bisa kembali beraktivitas seperti semula.”

Dana desa untuk bibit tanaman

Serupa dengan kondisi yang dialami kelompok perempuan di Bengkulu, Ruslia—seorang ibu dari satu anak yang berprofesi sebagai guru dan penjual makanan di Desa Karya Mulyo Sari, Kabupaten Rokan Hilir, Riau ini mulai merasakan dampak pandemi Covid-19 sejak pertengahan Maret lalu.

Karena khawatir tertular saat berinteraksi dengan pembeli, Ruslia memutuskan untuk hanya berjualan secara online. “Tidak hanya kegiatan belajar mengajar, penghasilan dari berdagang makanan juga menurun. Saya takut berjualan dan bertemu dengan pembeli”, ujarnya.

Ruslia menyadari bahwa kesulitan ekonomi yang dialami oleh masyarakat sekitarnya cukup berat sejak adanya pandemi. “Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, saya mengambil uang tabungan di koperasi. Dan saya tahu bahwa warga lain juga pasti sangat kesulitan.”

Sebelum pandemi, rata-rata penghasilan anggota koperasi Mutiara Rokan berkisar antara Rp 1,5 hingga Rp 3 juta per bulan. Namun kesulitan ekonomi mulai terjadi sejak pandemi yang menyebabkan penghasilan mereka turun hingga di bawah Rp 1 juta setiap bulannya.

Ruslia yang sehari-hari turut aktif dalam pendampingan PPSW, jaringan Permampu ini pun tidak mau tinggal diam. “Saya usulkan kepada Kepala Desa agar warga dibantu untuk dapat menanam sayur mayur di rumah mereka masing-masing. Usulan tersebut disetujui Kepala Desa hingga ada alokasi Dana Desa untuk pembelian dan distribusi bibit tanaman,” ujarnya bangga.

Program pembagian bibit kepada warga Desa Karya Mulyo Sari tersebut mulai berlangsung sejak 5 April lalu untuk mendukung ketahanan pangan warga desa secara mandiri. Melalui program tersebut, setiap rumah memperoleh 5 jenis bibit sayuran seperti terung, selada, brokoli, gambas, cabe rawit, kacang panjang, sawi, dan tomat.


Ruslia berharap program menanam di rumah sendiri ini dapat berlangsung secara terus menerus dan meringankan beban ekonomi keluarga di tengah masa sulit ini.

“Program ini membantu menghemat pengeluaran rumah tangga, dan semoga dapat memenuhi kebutuhan gizi di masa pandemi.”

Dari ladang, ke pekarangan, hingga mesin jahit

Afriyati (53), anggota Kelompok Perempuan Usaha Kecil (KPUK) dampingan LP2M di Kabupaten Padang Pariaman, bersama suaminya telah lama menggeluti usaha pembibitan tanaman obat dan sayur mayur di pekarangan rumah mereka. Mereka memasarkan tanaman dan hasil panennya kepada warga sekitar secara langsung, dari mulut ke mulut.

“Tapi sejak wabah Corona, jangankan ada yang beli, mampir ke rumah saja tidak ada,” tukas Afriyati mengenai penjualan bibit tanamannya. “Dengan menanam sayur di kebun sendiri, saya dan suami tidak perlu sering-sering ke pasar dan bertemu orang banyak.”

Berbeda dengan kisah Afriyati, Zilnovita—anggota kelompok dampingan LP2M di Kabupaten Tanah Datar, Padang, Sumatra Barat—mengadvokasi pemerintah setempat untuk menyediakan masker kain bagi seluruh warga nagari sebagai langkah pencegahan COVID-19 yang juga memberikan peluang ekonomi baru bagi masyarakat.


Zilnovita bersama kelompoknya mengadvokasi Wali Nagari Pangian untuk bekerja sama dengan masyarakat desa memproduksi masker kain.
“Sejauh ini, saya selalu berusaha mencukupi kebutuhan gizi seimbang keluarga saya, namun itu saja tidak cukup. Kita perlu alat pelindung diri ketika harus beraktivitas di luar,” ujar Zilnovita.

Sama halnya dengan Zilnovita, Misdar—perempuan paruh baya yang telah memiliki cucu dari Nagari Tanjung Bonai—juga mengalami pergeseran mata pencaharian. Sebelum pandemi, Misdar bekerja sebagai petani ladang dan penjahit. Namun karena penurunan daya beli masyarakat, Misdar kini hanya menekuni usaha jahit demi memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Saat ini harapan saya hanya dari pesanan masker kain. Saya dan kelompok meminta kepada Wali Nagari Tanjung Bonai agar kelompok perempuan dapat tetap berpenghasilan dengan memproduksi masker.”
Misdar juga tidak pernah lupa berpesan kepada anak dan cucunya untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, tidak hanya untuk menghindari COVID-19, tetapi juga agar mereka dapat hidup produktif lebih lama.

Selain membuat masker, bersama kelompok dampingan PPSW, Zilnovita dan Misdar turut mendukung komunitas warga tani yang mengalami kerugian besar akibat penurunan penjualan hasil panen dengan membantu pemasaran melalui WhatsApp dan Facebook.