Cerita

Lentera Perempuan Jadi Media Sumber Informasi tentang Kesetaraan Gender di Bengkulu

1 Juli 2015
Penulis: admin

“Media arus utama dirasa kurang menyuarakan suara dan hak-hak perempuan secara lebih detail sehingga segala informasi yang patut didapat oleh perempuan di ranah akar rumput tidak didapatkan,” diungkapkan salah satu pengurus nawala Lentera Perempuan, WCC Cahaya Perempuan.

Melihat kondisi tersebut, Lentera Muda, organisasi perempuan muda binaan WCC Cahaya Perempuan di Rejang Lebong Bengkulu, salah satu mitra MAMPU, berinisiatif membuat media alternatif bernama Lentara Perempuan yang bisa dengan mudah dijangkau oleh masyarakat pedesaan.

Nawala berwarna seukuran A3 yang terbit bulanan ini diinisiasi oleh Dedek Hendry, jurnalis dan salah satu pengurus di WCC Cahaya Perempuan. Didukung oleh Program MAMPU, media alternatif ini mulai terbit pada Mei 2015.

Lentera Muda, organisasi yang bergerak dalam memperjuangkan hak-hak dasar perempuan terutama hak sosial, kesehatan dan kesetaraan gender ini bergerak membangun nawala Lentera Perempuan secara gotong-royong. Tim redaksi yang berjumlah dua belas orang ini diketuai oleh Winda Destriani (23).

Sebelum membuat nawala tersebut, tim redaksi belajar cara mewawancara narasumber, menulis dalam format 5W-1H dan mencari narasumber untuk menulis berita.

“Biasanya kami mencari berita dari lingkungan kami sendiri dan dari apa yang kami temui di tempat lain. Tentu saja beritanya berhubungan dengan isu-isu perempuan. Misalnya, terkait kesehatan, kesehatan reproduksi, kesetaraan gender dan isu sosial lainnya,” kata Winda.

Winda dan tim selalu melakukan rapat redaksi sebagai bahan evaluasi dan rencana penerbitan berikutnya, hal ini dilakukan supaya konten berita sesuai dengan kebutuhan masyarakat terutama perempuan di desa nya. Mereka jadi banyak membaca, menonton berita dan lebih peka terhadap kejadian di sekitarnya. Karena semua itu bisa menjadi bahan rujukan di Lentera Perempuan.

Dessy Anggraini (19) salah satu anggota tim redaksi mengatakan bahwa Lentera Perempuan yang lebih memuat tentang hak-hal perempuan ini tak hanya diperuntukkan bagi perempuan saja. Siapapun dapat membacanya sebagai bahan rujukan atau wawasan.

Setelah dicetak, Lentera Perempuan disebar ke berbagai tempat umum yang sering dikunjungi masyarakat, seperti jalan utama, warung, sekolahan, klinik, tempat perkumpulan organisasi dan tempat ramai lainnya.

Lentera Perempuan biasanya ditempel di dinding supaya mudah dibaca bagi siap apun. Sebab banyak yang malas membaca apalagi membeli, tapi jika media tersebut ditempel, akan membuat penasaran dan akhirnya membaca,” kata Dessy.

Winda dan teman-temannya di Lentera Muda semangat memperjuangkan hak-hak perempuan dalam mengakses segala informasi atau menyuarakan aspirasinya melalui Lentera Perempuan. Karena, menurut mereka, dengan menyampaikan segala informasi dan aspirasi melalui media, lebih efektif untuk mendapatkan perubahan ke arah yang lebih baik.

“Setidaknya aspirasi perempuan bisa terangkat melalui media dan dapat menjadi bahan komunikasi bagi pihak yang berkepentingan,” ujar Winda.

Salah satu topik yang mereka angkat adalah pernikahan dini yang marak di Bengkulu. Tim redaksi Lentera Perempuan berjuang keras untuk menginformasikan isu tersebut. Topik dikemas semenarik mungkin dan diulas dengan pernyataan narasumber kompeten, sehingga kemasan berita dapat dicerna dengan baik oleh siapapun terutama para remaja. Setiap edisinya mempunyai topik beragam dan mengikuti perkembangan isu wilayah.

“Kami berharap Lentera Perempuan akan terus terbit dan frekuensi penerbitannya bertambah, sehingga dapat menyerap aspirasi perempuan lebih banyak lagi dan bisa memberikan limpahan informasi bermanfaat bagi masyarakat, khususnya perempuan,” kata Winda.